Pages

10.02.2010

Hukum-Hukum Belajar

Edward Lee Thorndike lahir pada 1874 di Williamsburg, Massachusetts, putra kedua dari seorang pendeta Methodis. Dia lulus S1 dari Universitas Wesleyan tahun 1895, S2 dari Harvard tahun 1896 dan meraih gelar doktor di Columbia tahun 1898.
Menurut Thorndike, belajar merupakan peristiwa terbentuknya asosiasi-asosiasi antara peristiwa-peristiwa yang disebut stimulus (S) dengan respon (R). Stimulus adalah suatu perubahan dari lingkungan eksternal yang menjadi tanda untuk mengaktifkan organisme untuk beraksi atau berbuat, sedangkan respon adalah tingkah laku yang muncul dikarenakan adanya stimulus. Teori belajar yang dikemukakan oleh Thorndike ini disebut dengan teori belajar koneksionisme. Thorndike juga menggambarkan proses belajar sebagai proses pemecahan masalah. Dalam penyelidikannya tentang proses belajar, pelajar harus diberi persoalan, dalam hal ini Thorndike melakukan eksperimen dengan sebuah puzzlebox. Eksperimen yang dilakukan adalah dengan kucing yang dimasukkan pada sangkar tertutup yang apabila pintunya dapat dibuka secara otomatis bila knop di dalam sangkar disentuh. Percobaan tersebut menghasilkan teori Trial dan Error. Atas dasar percobaannya, Thorndike menemukan hukum-hukum belajar, yaitu :
1. Hukum kesiapan (Law of Readiness)
Jika suatu organisme didukung oleh kesiapan yang kuat untuk memperoleh stimulus maka pelaksanaan tingkah laku akan menimbulkan kepuasan individu sehingga asosiasi cenderung diperkuat. Menurut Thorndike, ada beberapa kondisi yang akan muncul pada hukum kesiapan ini, diantaranya :
a. jika individu siap untuk bertindak dan mau melakukannya, maka ia akan merasa puas.
b. jika individu siap untuk bertindak, tetapi ia tidak mau melakukannya, maka timbullah rasa ketidakpuasan.
c. jika belum ada kecenderungan bertindak, namun ia dipaksa melakukannya, maka melakukannya akan menjengkelkan.

Misalnya berdasarkan pengalaman saya selama kuliah di Psikologi yaitu, ketika sudah siap untuk presentasi tetapi dikarenakan dosen tidak hadir maka presentasinya ditunda. Hal ini menyebabkan adanya penurunan dalam belajar untuk mempersiapkan presentasi berikutnya. Karena seperti prinsip hukum kesiapan bahwa ketika individu siap untuk melakukan suatu tindakan tetapi tidak dilakukan maka akan menjengkelkan.


2. Hukum latihan (Law of Exercise)
Hukum latihan akan menyebabkan makin kuat atau makin lemah hubungan S-R. Dalam hal ini, hukum latihan mengandung dua hal :
a. The Law of Use : hubungan-hubungan atau koneksi-koneksi akan menjadi bertambah kuat, kalau ada latihan antara situasi yang menstimulasi dengan suatu respons.
b. The Law of Disuse: hubungan-hubungan atau koneksi-koneksi akan menjadi bertambah lemah atau terlupa kalau latihan-latihan dihentikan, karena sifatnya yang melemahkan hubungan tersebut
Misalnya berdasarkan pengalaman saya selama kuliah di Psikologi yaitu, ketika tampil dalam presentasi. Sebelum tampil maka saya latihan untuk berbicara, awalnya di depan cermin baru kemudian di depan teman-teman sekelompok. Sehingga saya dapat melakukan presentasi dengan baik.

3. Hukum efek (Law of Effect)
Hubungan stimulus dan respon cenderung diperkuat bila keadaan yang menyenangkan (satisfying state of affairs) dan cenderung diperlemah jika keadaan yang menjengkelkan (annoying state of affairs). Rumusan tingkat hukum efek adalah, bahwa suatu tindakan yang disertai hasil menyenangkan cenderung untuk dipertahankan dan pada waktu lain akan diulangi.
Misalnya berdasarkan pengalaman saya selama kuliah di Psikologi yaitu, ketika saya belajar sebelum kuis dan saya mendapatkan nilai yang baik maka saya cenderung untuk belajar dulu sebelum kuis. Tetapi suatu ketika pernah saya sudah belajar sebelum kuis tetapi mendapatkan hasil yang tidak memuaskan maka ketika ada kuis lagi di mata kuliah yang sama saya malas untuk belajar.

Selain ketiga hukum tersebut konsep belajar Thorndike yaitu belajar yang inkremental yaitu belajar secara bertahap bukan yang insighful. Di sini aplikasinya berdasarkan pengalaman saya yaitu sebelum memulai suatu materi saya biasanya melihat topik-topik yang ada dalam materi tersebut kemudia membahas satu-persatu topik-topik tersebut.

Daftar Pustaka :
Hergenhahn, B. R. & Olson M. H. 2009. Theories of Learning (Teori Belajar). Kencana Premedia Group : Jakarta.

प्सिकोलोगी बेलाजर 1

Belajar Dikondisikan

Ivan Petrovich Pavlov lahir 14 September 1849 di Ryazan Rusia yaitu desa tempat ayahnya Peter Dmitrievich Pavlov menjadi seorang pendeta dan Pavlov pada mulanya belajar untuk menjadi pendeta tapi dia berubah pikiran. Pavlov lulus sebagai sarjana kedokteran dengan bidang dasar fisiologi. Karyanya mengenai pengkondisian sangat mempengaruhi psikologi behavioristik di Amerika.

Pavlov merupakan salah satu tokoh behavioristik yang menemukan teori classical conditioning yang ditemukannya melalui eksperimennya terhadap anjing. Dalam teori classical conditioning ini dinyatakan bahwa stimulus baru dapat dibuat untuk menimbulkan refleks tertentu. Berdasarkan teori Pavlov ini dalam belajar diperlukan pentingnya penciptaan kondisi atau lingkungan yang diperkirakan yang dapat menimbulkan respon pada diri. Selain itu dalam belajar juga terdapat adanya pembangkitan respon dari stimulus yang pada awalnya bersifat netral atau tidak mempengaruhi. Melalui penggabungan antara stimulus yang netral ini dengan respon, dimana proses ini dilakukan secara berulang-ulang maka nantinya stimulus netral ini dapat menimbulkan respon yang diinginkan. Biasanya respon yang terbentuk adalah bersifat emosional atau fisiologikal dan tidak disengaja. Maksudnya di sini adalah respon yang ada tersebut diluar kontrol kesadaran individu. Selain itu, adanya stimulus yang tadinya tidak ada hubungan menjadi berhubungan.

Sebagai ilustrasi yang dilakukan oleh Pavlov adalah percobaannya pada seekor anjing dan ia memperhatikan perubahan tingkah laku pada waktu tertentu. Dalam eksperimennya, ia menunjukkan bagaimana belajar dapat mempengaruhi perilaku yang selama ini disangka tidak refleksif dan tidak dapat dikendalikan. Melalui eksperimennya, Pavlov berharap agar air liur anjing itu bisa keluar bukan karena adanya suatu makanan, akan tetapi dikarenakan adanya kondisi tertentu yang sengaja dibuat. Singkatnya, percobaan Pavlov adalah sebagai berikut :
CS dan UCS diberikan tidak bersamaan :
- CS = bel dibunyikan responnya air liur tak keluar
- UCS = makanan diberikan responnya air liur keluar (UCR)
CS dan UCS diberikan bersamaan dan berkali-kali :
- CS dan UCS = bel dibunyikan dan air liur keluar
makanan diberikan (UCR)

Dari contoh di atas jika dikaitkan dengan pengalaman belajar saya, penerapan teori Pavlov ini seperti berikut, disini respon yang ingin ditimbulkan adalah keinginan untuk belajar. Jika diawali dengan membaca textbook maka keinginan untuk belajar itu kurang atau terkadang tidak ada. Baru baca satu halaman saja sudah mulai bosan. Tetapi jika membaca novel terlebih dulu maka ada keinginan untuk belajar tersebut. Kemudian saya sebelum belajar, membaca novel terlebih dulu kemudian membaca textbook baru belajar. Dan ketika proses ini saya lakukan berulang-ulang sekitar sebulan maka akhirnya tanpa membaca novel terlebih dulu saya mau memulainya dengan membaca textbook.

Tetapi pada suatu ketika saya merasa jenuh juga karena membaca textbook tanpa membaca novel. Atau dalam teori Pavlov disebut adanya extinction atau pelenyapan. Dan ketika hal ini terjadi saya mulai mencobanya lagi dari awal yaitu membaca novel dulu sebelum mulai membaca textbook.
Dari pengalaman saya di atas maka dapat disimpulkan bahwa :
- Textbook merupakan CS (Conditioned Stimulus) dan buku novel merupakan US (Unconditioned Stimulus)
- Adanya keinginan belajar karena textbook merupakan CS (Conditioned Stimulus)
- Buku novel yang merupakan US disebut juga reinforcement (penguat).

Pada awalnya saya tidak menyadari bahwa pengalaman saya tersebut merupakan aplikasi dari teori Pavlov ini sampai akhirnya saya mempelajari tentang teori Pavlov ini.

Daftar Pustaka
Hergenhahn, B. R. & Olson M. H. 2009. Theories of Learning (Teori Belajar). Kencana Premedia Group : Jakarta.

6.08.2010

Evaluasi performa demonstrasi klik di sini

Nama kelompok:
1. Siti Rahma (08-042)
2. Dewi R M H (08-055)
3. Ade (08-081)
4. Laura (08-092)

5.05.2010

klik disini

4.02.2010

Tugas Kelompok III

KONSTRUKTIVIS

slidenya
makalah

kelompok I
  • Alfine Pebrina ( 08- 001)
  • Dewi R.M.H ( 08- 055)
  • Susi Tambunan ( 08-061)
  • Laura Feronika (08- 092)